Jumat, 13 September 2013

PENGUATAN KARAKTER KEBANGSAAN PADA SEKOLAH BERBASISI KEAGAMAAN DI KABUPATEN SUKOHARJO (Studi Kasus di SMA Islam Al Azhar 7 Sukoharjo)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian terpenting bagi kemajuan suatu negara, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Dengan adanya pendidikan, anak akan dibimbing oleh seorang pendidik untuk menjadi manusia yang dewasa sehingga dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Jean Piaget menyatakan bahwa “pendidikan berarti menghasilkan, menciptakan, sekalipun tidak banyak, sekalipun penciptaan dibatasi oleh perbandingan penciptaan lain” (Syaiful Sagala, 2009: 1).
Berbagai kajian di berbagai negara dapat menyatakan bahwa adanya hubungan yang kuat antara pendidikan dengan kemajuan suatu negara. Di mana dapat ditunjukan oleh berbagai indikator yaitu kondisi ekonomi dengan sosial dan budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi kemajuan suatu negara adalah pendidikan yang merata, bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pendidikan yang ada di negara Indonesia merupakan upaya dari pemerintah untuk  menyiapkan SDM yang bermutu dan berkualitas serta membentuk karakter warga negara. Maka dari itu, negara Indonesia sangat membutuhkan pendidikan karakter untuk mendidik warga negara, karena Masnur Muslich (2011: 1), menyatakan bahwa “pendidikan karakter kunci kemajuan bangsa”.
Pendidikan nasional di negara Indonesia mempunyai fungsi yang sudah dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang berbunyi:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta betanggung jawab.

Di negara Indonesia dalam rangka membentuk karakter bangsa warga negara yang bermartabat, maka saat ini negara Indonesia sangat membutuhkan pendidikan karakter kebangsaan untuk ditanamkan kepada warga negara khususnya generasi muda, agar setiap warga negara khususnya generasi muda memiliki karakter kebangsaan.
Karakter kebangsaan di sekolah yang terintegrasi dalam mata pelajaran PKn yang mengembangkan tiga kompetensi, yaitu civic knowledge, civic skill, dan civic dispositions. Warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter pada dasarnya adalah sebagai berikut:
Warga negara yang memiliki pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan dan karakter kewarganegaraan (civic knowledge, civic skill, dan civic dispositions). Civic knowledge berkenaan sengan apa-apa yang perlu diketahui dan dipahami secara layak oleh warga negara. Civic values/dispositions berkenaan dengan sifat dan karakter dari seorang warga negara baik secara pribadi maupun publik. Civic skill berkenaan dengan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh warga negara bagi kelangsungan bangsa dan negara yakni keterampilan intelektual dan partisipasi (Winarno dan Wijianto, 2010: 81).  

Berkenaan dengan civic knowledge adalah pengetahuan peserta didik tentang karakter kebangsaan khususnya sikap nasionalisme. Berkenaan dengan civic skill, meliputi keterampilan peserta didik dalam menjelaskan, menganalisis, berfikir kritis tentang karakter kebangsaan khususnya sikap nasionalisme dan berkenaan dengan civic dispositions, meliputi peserta didik memiliki karakter nasionalisme, patriotisme, semangat kebangsaan, religius, tanggung jawab dan lain-lain.
Penguatan karakter kebangsaan di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana penguatan karakter kebangsaan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen yang terkait lainnya, sehingga tidak hanya menciptakan peserta didik yang memiliki kompetensi kognitif saja, namun juga memiliki kompetensi afektif, dan psikomotorik, seperti halnya yang dinyatakan oleh  Zainuddin (2011: 26), yang menyatakan:
Jelasnya, kepentingan sekolah itu tidak hanya membuat anak didik cerdas dan cerdik serta bertambah ilmu pengetahuannya, melainkan lebih pada kewajiban dalam memperbaiki tabiat anak-anak dan mencetaknya agar sesuai dengan dunia yang akan datang dan menghasilkan tujuan pendidikan sebenarnya. Sekolah inilah sebaik-bainya jalan untuk memperbaiki dan mempertinggi pergaulan suatu bangsa. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam penanaman karakter.

Penanaman karakter kebangsaan di lingkungan sekolah diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik. Maka dari itu, sekolah harus mampu mengimplementasikan penanaman karakter kebangsaan kepada peserta didik. Wujud nyata yang dapat ditunjukkan, bahwa sekolah tersbut melaksankan penanaman karakter kebangsaan yaitu dengan mengenang perjuangan para pahlawan dan mengisi kemerdekaan lewat upacara bendera, hormat bendera merah putih, perlombaan, belajar, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menumbuhkan karakter kebangsaan peserta didik yang dilandasi rasa cinta tanah air. Namun, masih ada sekolah di Kabupaten Karanganyar yang belum melaksanakan penguatan karakter kebangsaan khususnya sikap nasionalisme kepada peserta didiknya, yaitu SMP Al Irsyad di Kecamatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi  Al Albani di Kecamatan Matesih. Kedua sekolah tersebut menolak hormat bendera merah putih dan menolak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, karena berkeyakinan menghormati benda mati adalah perbuatan syirik, sehingga kedua sekolah tersebut tidak mengadakan upacara bendera. (Muchus Budi, 2011: http://news.detik.com/read/2011/06/07/134039/165 4807/10/tolak-hormat-bendera-2-sekolah-di-karanganyar-terancam-ditutup).
Sikap pendidik di kedua sekolah tersebut sangat disayangkan, karena membuat suatu aturan dalam syariat Islam yang tidak jelas dasarnya dan tindakan tersebut menyalahi aturan di negara Indonesia, karena menolak hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seorang ulama dari Mesir yaitu Syeikh Athiyah Shaqar yang merupakan mantan ketua Majelis Fatwa Al-Azhar Mesir, beliau  menyatakan yang artinya:
Menghormati bendera diperbolehkan karena bukan ibadah. Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan dalam situai tertentu itu menunjukkan kesetiaan pada tanah air, berkumpul di bawah kepemimpinannya, dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap itu tidak masuk dalam pengertian ibadah kepada bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat dan sampai ada yang bilang itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah (Al Khoirot, 2012:  http://www.alkhoirot.net/ 2012/07/ hukum-menghormati-bendera-menurut-islam.html?m=1).

Hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan di dalam agama Islam sebenarnya diperbolehkan, karena hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan bukan merupakan ibadah. Di sisi lain, hormat bendera dengan lagu atau isyarat tangan merupakan suatu sikap yang ditunjukkan bahwa seorang tersebut memiliki kesetiaan terhadap tanah airnya/sikap nasionalisme.
Cinta tanah air juga pernah disampaikan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika Rasulullah SAW hendak meninggalkan Makkah untuk berhijrah ke Madinah, beliau berkata “Alangkah besarnya cintaku pada kota Makkah, tempat kelahiran dan tumpah darahku, andaikan penduduknya tidak mengusirku, maka pasti aku akan tetap berada di kota Makkah”. Kemudian sesampainya di Medinah beliau juga berdoa yang mencerminkan besarnya rasa cinta kepada tanah airnya, yaitu “Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami” (HR. Bukhori, Malik, dan Ahmad).
Sehubungan dengan pentingnya peningkatan sikap nasionalisme, pada tanggal 4 Juli 2012 Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo menyelenggarakan workshop pembinaan nasionalisme dan karakter bangsa di aula SMA N 1 Sukoharjo yang diikuti sebanyak 310 guru. Kepala Dinas Pendidikan Haryanto mengatakan bahwa “pembinaan nasionalisme sudah dilakukan dan sudah dijabarkan melalui kurikulum dalam pelajaran, namun hasilnya belum maksimal”. Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua, khususnya lembaga pendidikan sebagai institusi formal. Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo dalam menyikapi permasalahan tersebut telah memiliki komitmen untuk mendukung program nasionalisme dan karakter bangsa yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga sasaran yang ingin dicapai dapat terwujud yaitu Sukoharjo kondusif dan makmur (Kodim, 2012: http://kodim.blogspot.com/2012/ 07/pembinaan-nasionalisme-dan-patriotisme.html)
Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo yang ingin mewujudkan Sukoharjo yang kondusif dan makmur melalui program karakter kebangsaan khususnya di lingkungan pendidikan ternyata tidak sesuai dengan harapan, karena masih ada alumni dari sekolah keagamaan yang menjadi teroris, yaitu Firman pemuda yang masih berusia 20 tahun, alumni pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki yang berada di Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo yang merupakan salah satu jaringan teroris ketika serangan pos polisi di solo yang menewaskan seorang petugas kepolisian di Singosaren, Solo.
Peserta didik setelah lulus dari sekolah berbasis keagamaan diharapkan menjadi individu yang religius dan memiliki karakter kebangsaan khususnya sikap cinta tanah air. Namun, kenyataannya masih ada peserta didik yang lulus dari sekolah berbasis agama Islam yang belum memiliki karakter kebangsaan, padahal dalam agama Islam dikenal dengan slogan-slogan yang dinisbatkan sebagai hadits Nabi yaitu “hubbul watan minal iman, yang artinya cinta bangsa adalah bagian dari iman” (Ali Masykura, 2011: 140).
Implementasi penguatan karakter kebangsaan khususnya sikap nasionalisme juga dilaksanakan oleh pendidik di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo kepada peserta didik, sekolah tersebut merupakan sekolah berbasis agama Islam yang baru berdiri tahun 2011 dan baru ada kelas X dan XI. Meskpun SMA Islam Al-Azhar Sukoharjo lebih mengutamakan penguatan karakter keagamaan dari pada karakter kebangsaan, namun sekolah tersebut tetap berusaha untuk melaksanakan penguatan karakter kebangsaan kepada peserta didik secara maksimal.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan beberapa pendidik di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo, bahwa implementasi penguatan karakter kebangsaan khususnya sikap nasionalisme di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakulikuler pramuka yang diadakan secara rutin pada setiap hari Sabtu yang wajib diikuti oleh peserta didik kelas X dan XI, melalui upacara bendera merah putih meskipun jarang dilaksanakan, dan peringatan hari pahlawan serta hari kemerdekaan RI yang diisi dengan upacara bendera dan kegiatan lomba-lomba, seperti: kebersihan kelas, menulis artikel tentang sejarah perjuangan para pahlawan dan lain sebagainya. Program-program yang ada di sekolah tersebut, menunjukkan bahwa pihak sekolah serius untuk mengimplementasikan penguatan karakter kebangsaan kepada peserta didik khususnya sikap nasionalisme.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian lebih lanjut dari upaya penguatan karakter kebangsaan kepada peserta didik di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo, yang melalui kegiatan ekstrakulikuler pramuka, upacara bendera yang sangat jarang dilaksanakan, peringatan hari pahlawan, dan hari kemerdekaan RI. Maka dari itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi yang berjudul “Penguatan Karakter Kebangsaan di Sekolah Berbasis Keagamaan di Kabupaten Sukoharjo (Studi Kasus di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo)”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.             Bagaimana implementasi penguatan karakter kebangsaan di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo?
2.             Apa saja yang menjadi hambatan dalam pembinaan penguatan karakter kebangsaan di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo?
3.             Bagaimana dampak dari pengutan karakter kebangsaan terhadap sikap nasionalisme peserta didik di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui implementasi penguatan karakter kebangsaan di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo.
2.      Untuk mengetahui apa saja yang menjadi hambatan dalam pembinaan penguatan karakter kebangsaan di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo.
3.      Untuk mengtahui dampak dari penguatan karakter kebangsaan terhadap sikap nasionalime peserta didik di SMA Islam Al-Azhar 7 Sukoharjo.

D.    Manfaat Penelitian
Di dalam penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Manfaat Teoretis
a.    Hasil penelitian ini memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang studi yang sesuai dengan penelitian ini.
b.    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pembanding bagi siapa saja yang ingin mengkaji lebih dalam lagi tentang penguatan karakter kebangsaan kepada peserta didik.
2.      Manfaat Praktis
a.    Sebagai acuan bagi sekolah-sekolah khususnya sekolah berbasis keagamaan untuk melakukan penguatan karakter kebangsaan secara maksimal kepada peserta didik.
b.    Bagi pendidik agar dapat dijadikan saran untuk selalu meningkatkan penguatan karakter kebangsaan kepada peserta didik, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi pendidik.
c.    Bagi pembaca dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian lanjutan yang relevan.

Selasa, 28 Mei 2013

TASAWUF DAN 7 MAQAM DALAM MENCAPAI TINGKAT KEROHANIAN

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah padaabad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme).


Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah[1]. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad [2].
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Shafyan al-Tsauri danRabi’ah al-‘Adawiyah.

Tujuh Maqam Kenaikan Rohani
Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Misticisme dalam Islam: "buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang stasion-stasion (maqam-maqam) ini". Menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-luma' fi't tashawaauf diketengahkan tujuh maqam secara urut yang masing-masingnya umum terdapat dalam kitab-kitab lainnya. ketujuh maqam tersebut ialah:
  1. Maqam taubat, dalam hal ini Dzu al-Nun an-Misri mengatakan "taubatnya orang-orang awam taubat dari dosa-dosa, taubatnya orang khawas taubat dari ghaflah (lali mengingat Tuhan)" 
  2. maqam wara': dalam Risalah al-Qusyairiyah banyak membahas tentang maqam wara' beserta pandangan atau rumusan para sufi tentang hal ini. wara' adalah meninggalkan segala hal yang syhubat.
  3. maqam zuhud: zuhud pada dasarnya adalah tidak tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi
  4. maqam fakir:orang yang memalingkan setiap pikiran dan harapan yang akan memisahkan pikirannya daripada Tuhan. fakir di sini adalah orang yang lenyap kesadaran keberadaan dirinya, sehingga dirinya tidak mempunyai kemampuan, perasaan, dan perbuatan, selain kehendak dari Allah 
  5. maqam sabar: penguasaan diri dan sabar dalam waktu mengalami kesempitan, susah, penderitaan, tantangan dan perang adalah mentalitas Islam  
  6. maqam tawakkal: tasawuf menjadikan maqam tawakal sebagai wasilah atau sebagai tangga untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah.
  7. maqam ridho:setelah mencapai maqam tawakal, nasib mereka berbulat-bulat diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Allah, meninggalkan dan membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Allah, maka harus segera diikuti menatahatinya untuk mencapai maqam ridha (Simuh, 2002: 49: 70).

Daftar Pustaka

Simuh. 2002. Tasawuf dan Perkembangannya dalam islam. jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Rabu, 08 Agustus 2012

BAROKAH


Barokah, (atau dalam istilah jawa sering disebut dengan berkat) adalah sebuah istilah yang bersumber dari ajaran Islam. Istilah barokah dalam nash Al-Qur’an dan Al-Hadits kerap dimasukkan pada beberapa permasalahan yang menyangkut pada kenikmatan; baik berupa makanan, harta benda maupun sebuah perbuatan meliputi pernikahan, belajar-mengajar mengajar, pekerjaan dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu, dan keilmuan Islam semakin enggan untuk dipelajari maka pemaknaan beberapa istilah dalam Islam semakin membias dan seolah sulit untuk didefinisikan. Sebagian orang yang tak mau berpikir panjang akan mengartikan beberapa istilah dalam Islam dengan apa yang didapatinya dalam keseharian, sementara yang ingin disebut dengan muslim yang intelek (berwawasan luas) beranjak menghimpun data dari literatur zaman dahulu dan digabungkannya lah beserta praktek di masyarakat, namun tetap mengabaikan rambu-rambu syariat. Kemudian dari keduanya apa yang akan terjadi? justru membuat Islam semakin jauh dari ajarannya.
Mengapa demikian? ya. Karena keduanya menempatkan hawa nafsu dan pemikiran mereka seolah lebih tinggi atau setara dibanding penjelasan yang Allah dan Rasulnya berikan melewati Al-Quran dan Al-Hadits. Akibatnya, perbuatan syirik merajalela disebabkan pemikiran mereka membolehkan memohon barokah dari sebuah telur yang dipecahkan dalam hajatan pernikahan, kembang tujuh rupa pemberi manfaat yang dikalungkan di leher pengantin pria, dan lain sebagainya. Atau justru akibatnya membuat orang mengecilkan makna barokah, penyebabnya hanyalah karena yang mereka ketahui barokah adalah satu porsi makanan yang lengkap dengan nasi dan lauk pauknya yang disebut‘berkatan’.

SEMOGA HIDUP KITA BERKAH...AMIN...

Selasa, 20 Maret 2012

Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Pkn yang bermateri "Menampilkan Prestasi Diri Demi Keunggulan Bangsa"


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Pembelajaran adalah diperkayanya sumber belajar dan media pembelajaran. Media komputer dimanfaatkan dalam pembelajaran karena memberikan keuntungan-keuntungan yang tidak dimiliki oleh media pembelajaran lainnya yaitu kemampuan komputer untuk berinteraksi secara individu dengan siswa.
Seperti halnya pembelajaran dalam Pkn yang bermateri Menampilkan prestasi diri untuk keunggulan bangsa, Pada hakikatnya manusia adalah individu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki potensi diri yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga prestasi diri setiap orang tentu tidak akan sama. Sebagai WNI yang baik maka setiap orang berusaha berprestasi demi keunggulan bangsa Indonesia tercinta. Tentu sangat membanggakan jika kita dapat berprestasi seperti orang-orang berprestasi yang telah melakukannya.
Disini komputer sangat diperlukan untuk mempermudah pembelajaran dan untuk mempermudah memahami materi yang yang diajarkan, misalnya penggunaan Microsoft Power point untuk menampilkan materi, Video atau film yang bertema tentang prestasi diri, kemudian juga untuk pemberian tugas terhadap siswa seperti membuat makalah menggumakan microsoft word, pengiriman tugas melalui e mail dan lain-lain.
B.     Rumusan Masalah
Bagaimana pemanfaatan Teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran? Khususnya dalam pembelajaran Pkn yang bermateri “Prestasi diri demi keunggulan bangsa”.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengembangan TIK di Sekolah secara Mandiri, kita belum terlambat untuk mempersiapkan diri dalam penguasaan TIK sebagai media pembelajaran di Sekolah. Ada beberapa poin untuk membuat suatu perencanaan pengembangan TIK, diantaranya:
1.      Mempersatukan visi dan misi pengembangan TIK yang ingin dicapai antara Kepala sekolah, guru dan Siswa.
2.      Pembentukan Komite Teknologi (Organisasi Labkom) yang mandiri.
3.      Mengidentifikasi infrastruktur lembaga, baik hardware, software maupun sistem dan jaringan yang sudah dimiliki
4.      Penentuan hardware dan software yang akan digunakan atau dikembangkan.
5.      Menentukan bentuk pelatihan penguasaan TIK baik untuk guru dan staf lainnya.
6.      Adanya Time schedule yang jelas untuk pencapaian program.
7.      Mengidentifikasi perkembangan software dan kurikulum baru
Dengan perencanaan yang matang, kita bisa mengembangkan TIK secara bertahap di madrasah agar tidak tertinggal dari sekolah lain. Program yang dibuat haru dilaksanakan secara berkelanjutan meskipun terjadi pergantian kepala dan majilis madrasah. Pemanfaatan TIK Sebagai Media Pembelajaran TIK bukan merupakan teknologi yang berdiri sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari hardware dan software.Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran yaitu hardware dan software yang tersedia dan jenis metode pembelajaran yang akan digunakan. Beberapa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran diantaranya:
1.      Presentasi
Presentasi merupakan cara yang sudah lama digunakan, dengan menggunakan OHP atau chart. Peralatan yang digunakan sekarang biasanya menggunakan sebuah komputer/laptop dan LCD proyektor. Ada beberapa keuntungan jika kita memanfaatkan TIK diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan film, sehingga tampilannya menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa untuk menangkap materi yang kita sampaikan. Software yang paling banyak digunakan
untuk presentasi adalah Microsoft Powerpoint. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan presentasi,
diantaranya:
a.       Jangan terlalu banyak tulisan yang harus ditampilkan.
b.      Tulisan jangan terlalu kecil karena harus dilihat oleh banyak siswa.
c.       Perbanyak memasukkan gambar dan animasi
d.      Usahakan bentuk presentasi yang interaktif.
2.      Demonstrasi
Demontrasi biasanya digunakan untuk menampilkan suatu kegiatan di depan kelas, misalnya eksperimen. Kita bisa membuat suatu film caracara melakukan suatu kegiatan misalnya cara melakukan pengukuran dengan mikrometer yang benar atau mengambil sebagian kegiatan yang penting. Sehingga dengan cara ini siswa bisa kita arahkan untuk melakukan kegiatan yang benar atau mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.
Cara lain adalah memanfaatkan media internet, kita bisa menampilkan animasi yang berhubungan dengan materi yang kita ajarkan (meskipun tidak semuanya tersedia).



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam pembelajaran di sekolah sangat diperlukan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mempermudah belajar siswa dan untuk meningkatkan Sumber daya manusia bagi siswa, karena zaman sudah modern, jadi setiap siswa wajib mengetahui apa itu Teknologi Informasi dan Komunikasi dan juga harus pandai dalam mengoprasikannya. Dalam pembelajaran di sekolah maupun di rumah dalam menggunakan fasilitas teknologi dan komunikasi tidak hanya pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi saja tetapi juga dalam mata pelajaran yang lainnya khususnya mata pelajaran Pkn yang bermateri “Menampilkan prestasi diri sesuai kemampuan demi keunggulan bangsa”.
B.     Saran
Saya berharap kepada setiap sekolah/seluruh sekolah di indonesia dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar di sekolah menggunkan/memanfaatkan  Teknologi Informasi dan Komunikasi, agar dalam tujuan pembelajaran dapat tercapai dan saya berharap kepada setiap siswa dapat mengoprasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer.











DAFTAR PUSTAKA
http://www.upscale.utoronto.ca/GeneralInterest/Harrison/Flash/ClassMechanics/

MENAMPILKAN PRESTASI DIRI DEMI KEUNGGULAN BANGSA

Standar Kompetensi : Menampilkan prestasi diri sesuai kemampuan demi keunggulan bangsa

Kompetensi Dasar : Menampilkan peran serta dalam berbagai aktivitas untuk mewujudkan prestasi diri sesuai kemampuan demi keunggulan bangsa