Selasa, 28 Mei 2013

TASAWUF DAN 7 MAQAM DALAM MENCAPAI TINGKAT KEROHANIAN

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah padaabad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme).


Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah[1]. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad [2].
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Shafyan al-Tsauri danRabi’ah al-‘Adawiyah.

Tujuh Maqam Kenaikan Rohani
Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Misticisme dalam Islam: "buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang stasion-stasion (maqam-maqam) ini". Menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-luma' fi't tashawaauf diketengahkan tujuh maqam secara urut yang masing-masingnya umum terdapat dalam kitab-kitab lainnya. ketujuh maqam tersebut ialah:
  1. Maqam taubat, dalam hal ini Dzu al-Nun an-Misri mengatakan "taubatnya orang-orang awam taubat dari dosa-dosa, taubatnya orang khawas taubat dari ghaflah (lali mengingat Tuhan)" 
  2. maqam wara': dalam Risalah al-Qusyairiyah banyak membahas tentang maqam wara' beserta pandangan atau rumusan para sufi tentang hal ini. wara' adalah meninggalkan segala hal yang syhubat.
  3. maqam zuhud: zuhud pada dasarnya adalah tidak tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi
  4. maqam fakir:orang yang memalingkan setiap pikiran dan harapan yang akan memisahkan pikirannya daripada Tuhan. fakir di sini adalah orang yang lenyap kesadaran keberadaan dirinya, sehingga dirinya tidak mempunyai kemampuan, perasaan, dan perbuatan, selain kehendak dari Allah 
  5. maqam sabar: penguasaan diri dan sabar dalam waktu mengalami kesempitan, susah, penderitaan, tantangan dan perang adalah mentalitas Islam  
  6. maqam tawakkal: tasawuf menjadikan maqam tawakal sebagai wasilah atau sebagai tangga untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah.
  7. maqam ridho:setelah mencapai maqam tawakal, nasib mereka berbulat-bulat diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Allah, meninggalkan dan membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Allah, maka harus segera diikuti menatahatinya untuk mencapai maqam ridha (Simuh, 2002: 49: 70).

Daftar Pustaka

Simuh. 2002. Tasawuf dan Perkembangannya dalam islam. jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar